Text
GURU AINI
Desi Istiqomah sudah mencintai pelajaran matematika sejak dia duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar. Desi memperlihatkan buku catatannya ke tengah meja guru matematikanya, Bu Amanah, “Ini persamaan hidupku sekarang, Bu,”. Bu Amanah tersenyum lebar ketika melihat persamaan garis lurus dengan variabel-variabel yang diberikan nama sendiri oleh Desi. x1: pendidikan, x2: kecerdasan. Hal yang menarik perhatian Bu Amanah adalah konstanta a: pengorbanan. Desi menjelaskan “Pendidikan memerlukan pengorbanan, Bu. Pengorbanan itu nilai tetap, konstan, tak boleh berubah”.
Kecintaannya terhadap matematika membawanya mendapatkan nilai sempurna ketika lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Desi memiliki cita-cita untuk mendedikasikan dirinya menjadi seorang guru matematika. Cita-cita Desi ini didasarkan pada keinginannya untuk memberantas kebodohan dalam pelajaran matematika, yang selama ini menjadi pelajaran yang dinilai paling sulit dan menimbulkan paling banyak kegagalan dalam nilai rapor siswa.
Cita-cita Desi terhalang oleh restu orang tuanya. Orang tua Desi menginginkan anaknya yang merupakan lulusan terbaik itu untuk melanjutkan studi di Fakultas Ekonomi atau Fakultas Kedokteran. Namun, Desi tetap berpendirian teguh dan menyatakan keinginannya secara jelas bahwa ia ingin menjadi seorang guru matematika.
Desi kemudian melanjutkan kuliah ikatan dinas D3 guru matematika. Masa kuliah Desi berjalan dengan sangat baik, Desi lulus dengan menyandang gelar sebagai lulusan terbaik. Lalu Desi pun akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri dan siap untuk ditempatkan di suatu wilayah di Pulau Sumatera sebagai bentuk pengabdiannya.
Desi memiliki hak untuk memilih ingin ditempatkan di wilayah Sumatera mana pun yang ia suka. Namun, Desi menginginkan untuk ditempatkan secara acak seperti teman-temannya. Maka itu, Desi akhirnya mengikuti undian penempatan dinas. Hasil undian Desi menyatakan ia akan melaksanakan dinas di kota Bagan Siapi Api, tetapi ia menukar hasil undiannya tersebut dengan temannya, Salamah.
Desi merasa iba dengan Salamah yang sampai menangis ketika mengetahui bahwa ia ditempatkan di pulau terpencil di Sumatera, yakni di Tanjong Hampar. Selain itu, Desi juga menginginkan tantangan dan merasa siap untuk ditempatkan di mana pun, sekali pun itu di tempat pelosok.
Orang tua Desi pun ikhlas, karena melihat tekad putrinya untuk menjadi guru matematika itu sangat kuat. Namun, orang tua Desi sempat merasa cemas ketika mengetahui bahwa Desi ditempatkan di wilayah pelosok yang tak pernah mereka ketahui namanya.
Walaupun keadaan Desi saat itu dapat terbilang sukses dan ia dapat mengajar di wilayah mana pun yang ia inginkan, keinginan Desi untuk memberantas kebodohan begitu besar. Jadi, Desi tidak peduli jika ia harus mengajar di sekolah di wilayah pelosok mana pun itu. Sebab, di mana pun itu, Desi akan melaksanakan tugasnya dan mencerdaskan anak bangsa.
Desi juga berpikir bahwa menjadi seorang guru di desa pelosok dapat membawanya untuk membuktikan bahwa menjadi guru adalah sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan untuk membagikan ilmu, wawasan, dan mengembangkan mimpi, tanpa peduli akan pandangan rendah masyarakat terhadap guru. Pandangan seperti terhadap gaji guru, bagaimana apresiasi masyarakat terhadap guru, dan lain sebagainya.
Konon kata banyak orang yang tidak berlandaskan penelitian yang valid, secara umum idealisme anak muda yang baru lulus dari perguruan tinggi akan bertahan paling lama 4 bulan saja. Setelah itu, mereka akan menjadi penggerutu, pengeluh, dan penyalah seperti kebanyakan orang lainnya. Lalu, mereka akan terseret arus deras sungai besar rutinitas dan basa-basi birokrasi secara menyedihkan, serta mereka akan tunduk dengan patuh pada sistem yang buruk.
Dalam kenyataan hidup kebanyakan orang yang seperti itu, seberapa lama dan seberapa jauh Desi berani mempertahankan idealismenya untuk menjadi guru matematika di sekolah pelosok?
Akhirnya, tiba lah pada waktu untuk penempatan Bu Desi di sekolah. Desi pun pergi menuju Pulau Tanjung Hampar yang ada di ujung selatan Pulau Sumatera, tepatnya di Kampung Ketumbi. Perjalanan Desi menuju Kampung Ketumbi tidak mudah, ia harus menghabiskan waktu perjalanan selama 6 hari dan 6 malam, dengan naik kapal bermuatan kayu.
Sempat terlintas ras menyesal di benak Desi, karena ia menukar hasil undian miliknya dengan temannya. Desi lelah, dan juga mabuk laut. Namun, rasa lelahnya itu menghilang seketika ia melihat buku kalkulus yang ada di hadapannya.
Setelah turun dari kapal, Desi masih harus melanjutkan perjalanan menuju Kampung Ketumbi melalui jalur darat, sejauh 100 kilometer. Desi naik angkutan darat berupa bus reot yang jalannya sudah terseok-seok.
Akhirnya, sampai lah Desi di Kampung Ketumbi. Kehadirannya disambut secara hangat oleh para warga Kampung Ketumbi. Mereka berseru dan memanggil Desi dengan sebutan Bu Guru. Desi yang mendengarnya menjadi kembali semangat dan penuh energi, serta melupakan rasa lelah akibat perjalanan yang telah ditempuhnya.
Bu Desi ditempatkan di Sekolah Menengah Atas Ketumbi. Murid-murid di SMA Ketumbi lebih parah dibandingkan bayangan Desi. Sebab, sebagian besar murid SMA Ketumbi anti dan takut terhadap pelajaran matematika. Desi sempat merasa gagal karena para murid benar-benar tidak menyukai matematika sedikit pun. Namun, Bu Desi tetap gigih untuk memenuhi tujuannya untuk memberantas kebodohan.
Di sekolah tersebut, Bu Desi memiliki seorang anak murid bernama Aini. Aini merupakan anak yang sama sekali tidak mengerti tentang pelajaran matematika. Nilai Aini di pelajaran matematika sangat buruk sejak ia duduk di bangku sekolah dasar hingga sekarang di sekolah menengah atas ini.
Namun, Aini memiliki mimpi untuk menjadi seorang dokter ahli saraf. Mimpi ini muncul, karena Aini melihat kondisi ayahnya yang sakit parah. Keluarga Aini berkekurangan secara ekonomi, maka itu Aini tidak bisa membawa ayahnya berobat ke dokter.
Oleh sebab itu, Aini memiliki tekad untuk menjadi seorang dokter, agar dapat menyembuhkan penyakit ayahnya. Aini mengerti bahwa untuk menjadi seorang dokter, Aini harus menguasai pelajaran matematika. Maka itu, Aini kemudian mendaftar untuk dapat masuk kelas Bu Desi, karena Bu Desi merupakan guru matematika paling jenius di sekolah itu
Aini belajar mati-matian, begitu giat, dengan tekad bulat, dan dibantu juga oleh Bu Desi, guru matematikanya. Walaupun nilai matematika Aini masih jelek selama proses belajarnya, dan ia sempat menjadi murid dengan nilai paling rendah di kelas, Aini tetap berjuang dan pantang menyerah.
Ia terus dan terus belajar, hingga pada akhirnya usahanya terbayarkan. Aini pada akhirnya menjadi ahli dalam pelajaran matematika. Namun, untuk menjadi seorang dokter ternyata tidak bisa hanya dengan ahli dalam pelajaran matematika.
Untuk menjadi seorang dokter dibutuhkan modal juga berupa biaya yang cukup besar. Akibat keterbatasan Aini dalam ekonomi, pada akhirnya mimpi Aini menjadi dokter menjadi tertunda. Aini harus berusaha mengumpulkan biaya hingga cukup untuk masuk ke Fakultas Kedokteran.
250200061 | 899.221 3 AND g | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain