Text
Yang Telah Lama Pergi
Buku Yang Telah Lama Pergi dikemas dalam 442 halaman yang membahas mengenai balas dendam yang dikemas berbeda dengan biasanya. Latar cerita yang berada di abad ke 13 akan membawa pembaca ke masa-masa kerajaan Sriwijaya.
Novel ini menceritakan seorang kartografer atau seorang pembuat peta bernama Al Mas’ud yang berasal dari Baghdad. Al Mas’ud sejak kecil sudah menjelajahi perjalanan yang jauh yaitu melintasi samudra dan lautan luas bersama sang Ayah.
Karena sejak kecil terbiasa menjelajah hingga dewasa Al Mas’ud memiliki jiwa berpetualang yang tidak dapat dihentikan oleh siapapun dan ia semakin ingin melakukan perjalanan panjang bahkan ketika sang istri tengah hamil anak pertamanya, ia tega meninggalkan istri dan calon anaknya untuk menjelajah dan menyelesaikan pembuatan peta yang belum terselesaikan yaitu peta Swarnadwipa atau Sumatra yang menjadi wasiat terakhir yang diberikan dari sang Ayah sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Ketika matahari terbit dan menyinari Kota Baghdad, Mas’ud pun berangkat dan semua berjalan sesuai kehendaknya. Semua logistik dan peralatan membuat peta telah ia bawa ke atas kapal. Perjalanan Mas’ud seharusnya lancar tidak ada kendala selain debutan ombak dan badai laut yang menjadi lawannya, namun siapa sangka yang dihadapi lebih dari sekedar ombak laut.
Ia disergap oleh sekelompok perompak ketika berada di Selat Malaka, semua barang yang ia bawa habis dijarah oleh perompak itu termasuk alat membuat peta dan logistik yang ia miliki. Mas’ud tahu bahwa kapal-kapal itu berlabuh di pelabuhan kecil di gerbang Selat Malaka dengan keinginan untuk kembali mendapatkan barang miliknya ia nekat naik ke salah satu kapal paling besar milik perompak itu dan sayangnya ia tertangkap basah di sarang perompak ganas itu.
Karena dianggap sebagai mata-mata, Mas’ud dikurung dan disiksa diatas kapal oleh perompak. Ia tidak bisa membuktikan dirinya bukan mata-mata dan tentu para perompak tidak akan percaya begitu saja dan beruntungnya ketika pedang hampir menikam lehernya ada seorang biksu yang menyelamatkannya.
Biksu Tsing adalah adalah sosok biksu yang menempuh perjalanan panjang untuk mencari kitab suci dan menerjemahkan sutra di berbagai tempat di dunia dan hal itu lah yang membuat dia bertemu dan berteman dengan Remasut si Raja Perompak. Biksu Tsing sendiri adalah sosok yang disegani dan dihormati di kalangan perompak karena Biksu dan Raja Perompak juga memiliki visi dan misi yang sama yaitu memiliki dendam yang sama pada para pejabat dan orang-orang di lingkungan Kerajaan Sriwijaya.
Mas’ud dapat diselamatkan oleh Biksu Tsing karena ternyata mereka pernah bertemu belasan tahun silam dan pertemuan itu sangat membekas karena Biksu Tsing telah bertemu dengan keturunan pembuat peta terbaik di dunia.Pertemuan ini membawa pada sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, Mas’ud bersama Biksu Tsing dan Perompak bersama-sama melakukan perjalanan menuju Pulau Suwarnadwipa atau Kerajaan Sriwijaya.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bahkan bulan demi bulan Mas’ud menghabiskan hari bersama para perompak itu mengarungi berbagai medan dilautan mulai dari berpindah kapal hingga bertemu banyak sosok yang tidak terduga hingga ikut bertarung. Kini Al Mas’ud tidak hanya piawai dalam membuat peta namun juga berhasil menjadi pencetus ide dan strategi perang di atas lautan luas.Pertarungan demi pertarungan melawan armada kapal Kerajaan Sriwijaya terus terjadi ketika menuju Palembang. Mas’ud tetap ingin menyelesaikan wasiat terakhir sang ayah untuk membuat peta pulau Swarnadwipa yang paling detail meski harus berpetualang dan bertarung dengan perampok sekalipun.
2402000554 | 899.221 3 TER y | Sedang Dipinjam (Jatuh tempo pada2025-03-03) |
Tidak tersedia versi lain