Text
Si Anak Badai
Badai kembali membungkus kampung kami. Kali ini aku mendongak, menatap jutaan tetes hujan dengan riang. Inilah kami, Si Anak Badai. Tekad kami sebesar badai. Tidak pernah kenal kata menyerah.
Buku ini tentang Si Anak Badai yang tumbuh ditemani suara aliran sungai, riak permukaan muara, dan deru ombak lautan. Si Anak Badai yang penuh tekad dan keberanian mempertahankan apa yang menjadi milik mereka, hari-hari penuh keceriaan dan petualangan seru.
Itulah ringkasan yang tertulis di bagian belakang cover buku ini.
Buku ini bercerita tentang kehidupan di Kampung Manowa. Kampung yang seluruh rumah penduduk, masjid, hingga sekolahnya pun berada di atas air. Bangunan-bangunannya kokoh berdiri dengan tiang-tiang yang tertanam di dasar muara. Karena itulah Kampung Manowa ini disebut sebagai kampung terapung. Tadinya, kehidupan di kampung ini sangat damai, sampai datang seorang utusan gubernur yang mengatakan akan membangun pelabuhan besar. Kampung Manowa terancam digusur.
Dari sinilah aksi Geng Anak Badai dimulai. Zaenal beserta tiga temannya, Ode, Awang dan Malim, menyelamatkan Pak Kapten dan Kampung Manowa. Pak Kapten adalah orang yang paling keras menentang pembangunan pelabuhan ini. Namun dia justru ditangkap dengan tuduhan palsu.
Zaenal bersama Geng Anak Badai berusaha keras untuk menyelamatkan Kampung Manowa. Mereka melakukan segala cara demi mempertahankan tanah kelahirannya itu. Meskipun alasan dari pembangunan pelabuhan itu adalah untuk kesejahteraan Kampung Manowa, tapi mereka paham bahwa itu hanyalah muslihat orang-orang yang berkepentingan saja.
"Sekarang orang-orang pintar itu akan membuat pelabuhan di sini. Mereka tidak akan tahu apa dampaknya bagi kita. Lebih celakanya lagi, mereka tidak peduli apa akibatnya bagi kita. Yang penting pelabuhan itu jadi, yang penting mereka mendapat uang banyak dari pembangunan pelabuhan." (Halaman 98)
2402000548 | 899.221 3 TER s | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain